F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Langganan Kyai Saat Ke Taipei

Langganan Kyai dari Indonesia
BIKIN KANGEN : Pengunjung restoran Yunus Ma banyak yang berasal dari Indonesia.

Yunus Halal Restaurant, Tempat Makan Halal Di Taiwan
Langganan Kyai Saat Ke Taipei

Yunus Ma sudah 20 tahun buka bisnis makanan halal di ibukota Taiwan. Pelanggannya tak hanya masyarakat umum, tetapi juga dari berbagai negara yang mayoritas muslim. Termasuk tokoh dari Indonesia yang juga pernah merasakan masakan dari restoran itu.

KOLASE foto memenuhi separo dinding dekat pintu dapur restoran yang ada di Jalan Pei Ning, Taipei, Taiwan. Ada 23 gambar, memperlihatkan para tokoh yang pernah mampir ke sana. Pemilik restoran, Yusuf Ma, selalu pamer pada pengunjung yang hendak bersantap di sana, Yunus Halal Restaurant.

Bagi orang Indonesia beberapa wajah orang yang ada di gambar itu begitu familier. Utamanya dari Indonesia. Seperti Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin dan Mahfud MD. Mereka pernah singgah dan mencicipi masakan dari dapur pemilik nama Taiwan Maren Wei tersebut.

Yunus Halal Restaurant memang bukan tempat kuliner biasa. Sajiannya ramah pada orang muslim. Halal. 

Sangat mudah menemukan lokasi itu. Saat tiba di Jalan Pei Ning, cukup toleh restoran dengan tulisan halal besar. Di kaca maupun billboard restoran warna pink, tertulis besar dengan huruf kapital.

Mungkin beberapa ada yang ragu saat pertama datang. Pelanggannya banyak warga sekitar. Demikian juga dengan Yunus, wajahnya lokalan saja. Dengan pakaian rapi, mengenakan kemeja celana kain dan berdasi. Tidak pakai kopiah atau songkok, apalagi berjenggot.

Yunus Halal Restaurant di Taipei, Taiwan
PETUALANGAN BARU : Yunus Halal Restaurant memberikan nuansa baru bagi pecinta kuliner Taiwan.

Tempat itu juga tidak terlalu besar. Hanya ada 11 meja, bundar dan kotak. Kapasitas maksimalnya tak sampai 50 orang. Namun orang keluar masuk begitu sering, hampir tak pernah berhenti. "Pengunjung di sini 70 persen dari luar negeri,  selebihnya orang Taipei," ujar pria 57 tahun itu.

Di Dinding terpasang foto kabah. Tergantung dua lafaz Allah dan Muhammad. Sementara dekat di sisi kanan pintu masuk terpanjang kalender. Lengkap dengan jadwal salat harian.

Ya, sudah 20 tahun restoran milik pria kelahiran Taiwan itu berjalan. Menyajikan makanan yang 100 persen bahannya halal. Sebagai buktinya dia sudah memegang sertifikat halal. Dari lembaga Islam yang ada di sana, Asosiasi Islam Taiwan.

Plakat akrilik itu terpampang di dinding sebelah kiri kasir. Cukup mudah terlihat saat pengunjung masuk. Begitu juga dari luar restoran, yang semua area depannya dari kaca.

Niat membuka usaha muncul saat teman Yunus dari Amerika dan Jepang datang ke tempatnya. Namun cari makan begitu sulit. Tidak ada yang menjamin olahannya halal. Meskipun bahannya secara kasat mata tidak haram.

Lantas ide bisnis itu pun muncul. Dia nekat membangun usaha. Tempat milik keluarganya dia kelola. Berdirilah Yunus Halal Restaurant, menempati bangunan satu lantai dan satu basement itu. Kata halal sengaja disematkan, sebagai tetenger. Biar gampang dikenali pengunjung. "Waktu itu saya berpikir, ini ide bisnis yang punya peluang bagus," paparnya.

Masakan Thailand dipilih sebagai menu utama yang disajikan. Menu Chinese atau Taiwan sudah mainstream. "Ada kebiasaan saat orang Taiwan ke luar negeri pasti ke Thailand. Lidahnya cocok dengan makanan di sana. Asam, asin dan pedas. Orang taiwan sangat suka (rasanya)," paparnya.

Bagi turis masakan yang disajikan dirasa pas. Bumbu yang cenderung ringan. Tanpa rempah yang terlalu tebal. Tidak bikin enek dan bisa diterima indra perasa semua orang.

Total ada 60 menu. Mulai dari bahan ikan, ayam, daging sapi atau pun domba. Ada satu masakan menarik yang diadopsi dari Indonesia. Bahannya dari telur ayam. "Orang Indonesia yang datang sangat suka telur dadar," ujarnya menyebut menu itu dengan bahasa Indonesia fasih.

Pemrakarsa Makanan Halal di Taipei

Soal bahan Yunus tidak mentoleransi apa pun. Dia menjaga betul kehalalannya. Penyembelihan harus sesuai syariat. Keperluan itu didapatkan dari langganannya yang juga muslim.

"Doa memotong ayam dan daging sendiri," katanya. Untuk sayur ambil dari pasar lokal. Sementara bumbu lain cari yang sudah mencantumkan tanda halal. Yunus mengatakan tidak sulit untuk menemukan barang itu di pasar.

Menurutnya banyak warga lokal yang juga menyukai masakannya. Meskipun mereka bukan muslim. Para pembeli asli Taiwan itu tahu penyajian masakan halal lebih bersih.

Satu contoh, jelas Yunus, soal penyembelihan, pemotongan di urat nadi membuat daging lebih segar. Tidak amis. Hal itu terbukti banyak juga yang mampir untuk makan masakan halal.

Saking seringnya jadi jujugan negara muslim dari luar negeri. Bapak dua anak itu punya cara tersendiri untuk memperlakukan tamunya dengan spesial. Sepuluh bendera kecil tertata di meja kasirnya. Mulai dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Turki, Kuwait dll.

Bamboo Shot
CIRI KHAS : Menu yang selalu ada di meja pembeli yakni rebung yang dimasak dalam wadah bambu.


Dia mengatakan bendera itu digunakan untuk memberi tanda di meja. "Jika yang datang dari delegasi Indonesia tinggal saya taruh. Memang banyak kedutaan yang agamanya mayoritas Islam makan kesini," katanya.

Selain makanan halal, fasilitas penunjang juga disediakan. Seperti musala yang ada di lantai bawah bangunan itu. "Kelak restoran keluarga ini akan dikelola anak saya. Sekarang masih kuliah di Islamic University Of Madinah," imbuhnya.

Bagi Yunus dia tidak pernah membeda-bedakan pelanggannya. Menurutnya masyarakat Taiwan sudah terbiasa dengan hidup berdampingan. Meskipun jadi minoritas, tak ada hambatan apa pun. Termasuk usahanya. "Tapi saya belum berencana buat cabang lagi, fokus di sini," ujarnya di sela melayani pelanggan yang keluar masuk.

Karyawan juga demikian. Yunus punya tujuh pekerja yang wira-wiri mengurus tamu dan bantu masak. Ada yang muslim ada juga yang Budha.

Memang saat ini wisata halal menjadi salah satu bagian yang terus didorong pemerintah Taiwan. Penyediaan tempat makan halal terus diperkuat. Dibantu juga promosinya sebagai paket wisata saat bertandang ke sana. (Galih Adi Prasetyo)
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment