F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Menatap New Normal Di Surabaya Raya

Bilik Disinfektan
MAKIN KETAT : Warga luar Surabaya yang hendak masuk kota wajib disterilisasi.

EKONOMI jadi alasan kuat kenapa wilayah di Surabaya Raya ngeyel tak diperpanjang. Tentu jika hal itu dilanjut, ekonomi ketiga wilayah akan goyah. Sambatannya sama, warga di daerah itu terancam pailit. Banyak usaha yang tidak mampu lagi bertahan. 

Setidaknya hal itu yang menjadi pertimbangan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat membahas tentang penentuan perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Senin (8/6) lalu. Toh menurut saya sendiri pemikiran dua wilayah bakal sama. Sama-sama sepakat.

Saya sendiri bakal menyuarakan hal yang sama. Penerapan PSBB membuat banyak lini usaha kelimpungan. Apalagi yang ada di sektor bawah. Mereka sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Apalagi, ketiga daerah ini selalu jadi rujukan jutaan warga dari luar wilayah. Perantau sepertinya hanya berharap, perusahaan tempat mereka bekerja berbelas kasih. Tetap mempekerjakan mereka tanpa ada bayangan PHK.

Gaji tetap dibayarkan. Meskipun tak genap seperti saat kondisi normal. Tetapi tetap saja hal itu membuat hati gundah.

Belum lagi pertokoan di pusat dagang, mal hingga pedagang kaki lima. Imbas yang jauh besar dirasakan mereka. Pendapatan harian dan tidak ada sistem kontrak membuat mereka semakin merana.

Namun kini mereka bisa bernafas lebih lega. Setelah akhirnya PSBB tidak diperpanjang. Namun tetap, Pemerintah Provinsi Jawa Timur meminta ada jeda 14 hari untuk pengondisian new normal.

Apa saja sih yang dilakukan saat menuju tatanan baru ini?

  • Tentu aktivitas sehari hari. Seperti menjalankan physical distancing hingga penggunaan masker.
  • Lalu larangan berkerumun.

Tidak taat
MELANGGAR : Pengendara yang tidak pakai masker.
Namun saya pikir, perilaku masyarakat kita memang tidak akan merasakan perubahan besar. Saat PSBB pun jalanan masih tetap ramai. Pertokoan tetap buka, meski pintu hanya dibuka separo.

Bagi sebagian orang, PSBB tidak berbeda banyak. Perubahan paling kentara hanya terasa di sektor formal. Seperti perusahaan atau yang berkaitan langsung dengan daerah lain.

Meski dianggap tidak ada perbedaan yang signifikan. Tetap saja warga menyambutnya dengan antusias. Artinya pertokoan yang sebelumnya tutup separo, bisa buka penuh. Promosi bisa digencarkan.

Yang punya usaha tempat makan, bisa menyediakan tempat duduk lagi. Bisa mempersilahkan makan di tempat lagi. Tidak lagi khawatir jika ada Satpol PP yang datang. Yang saat PSBB bisa menyegel tempat jualan mereka.

Dompet Tebal dan Pasang Badan

Masa penyesuaian ini pun menciptakan dua cerita yang berbeda di tengah masyarakat. Ada yang merasa senang dengan kondisi yang akan membaik. Ada yang merasa inilah saatnya pakai baju perang, bikin pertahanan sekuat mungkin atau gagal.

Bagi yang dompetnya sempat kembang kempis bisa segera terisi lagi. Ada harapan ekonomi mulai bangkit. Jual beli berjalan lancar. Kelas bawah hingga atas dapat dampaknya.

Ayah yang sebelumnya pusing, kini bisa menjanjikan kehidupan lebih baik bagi anaknya. Yang sebelumnya untuk sekedar beli mainan hanya kata sabar yang keluar. Kini bisa diwujudkan. Sang anak kembali senang.

Meski untuk memainkannya tidak bisa bersama-sama. Tidak Boleh berkerumun apalagi bagi usia anak yang cukup rentan.

Berbeda cerita dengan orang yang protektif. New normal sebagai sebuah petaka. Yang bisa menghampiri kapan saja dan di mana saja berada.

Alat pelindung diri tidak pernah lepas. Namun kekhawatiran itu makin menjadi-jadi. Di kala pemerintah dianggap tidak serius. Lebih baik menyelamatkan ekonomi daripada kesehatan warganya.

JERA : Petugas menghukum dua remaja yang tidak bermasker di tempat umum.

Kalau sudah begini muncul pesimisme diiringi dengan perasaan was-was saat beraktivitas. Bisa-bisa, rumah adalah pertahanan terakhir yang dipilih.

Sambil harap-harap cemas kemungkinan terburuk. Yang positif naik berkali-kali lipat. Rumah sakit penuh. Paling ngeri seperti di Venezuela. Mayat-mayat tak terurus.

Dua sisi mata koin itu bisa seimbang. Asal masyarakat tahu kuncinya. Mau melaksanakannya. Tak sungkan menegur lingkungan di sekitarnya.

Jaga selalu protokol kesehatan. Usaha yang buka menyesuaikan. Kalau perlu atur jarak tempat. Tegaskan ke para pelanggan untuk cuci tangan atau pulang. 

Sesederhana itu memang penerapannya. Apalagi jika dilaksanakan semua elemen yang ada di tiap lapisnya. Tentu Covid-19 akan menjadi flu biasa. (Galih Adi Prasetyo)


Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment