F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Rapid Test Untuk Syarat Bekerja

Rapid Test
MAKIN TERTIB : Panitia menyediakan ratusan kursi tunggu rapid test agar warga tidak berjubel.

SETIAP hari Pemkot Surabaya dan Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar rapid test untuk umum. GRATIS. KTP Surabaya atau pun luar Surabaya bebas ikut.

Tentu hal-hal yang seperti ini selalu memikat minat masyarakat. Daripada harus test secara mandiri. Biayanya pun cukup lumayan Rp 300.000-500.000 untuk test yang hasilnya hanya berlaku tujuh hari saja.

Tidak perlu ribet pula harus download aplikasi ini dan itu. Masukan kode, daftar email dan lainnya. Seperti yang ditawarkan saat ada promo aplikasi. Tinggal datang, daftar dan tunggu antrean.

Di fasilitas laboratorium berjalan milik BIN itu pun fasilitasnya lengkap. Bukan hanya rapid test saja. Ada laboratorium untuk swab test. Yang dalamnya ada alat PCR, untuk memastikan apakah benar-benar positif Covid-19 atau tidak.

Jadi gimana caranya kalau mau ikutan?
  • Kalian tinggal datang ke tempat test. Untuk tahu tempat tes nya bisa pantau instagram milik Pemkot Surabaya.
  • Nah setelah di lokasi ke tempat pendaftaran dong. Sambil menunjukkan KTP ya. Sama nomor HP yang masih aktif.
  • Kemudian kalian diminta antri. Kalau banyak, paling butuh waktu sejam.
  • Setelah tiba antrean bakal di ambil darah dan di test. Tunggu deh hasilnya sekitar 30 menit. Nanti di panggil.
  • Nah ini dia, kalau hasilnya NON REAKTIF kalian bakal diberi kartu hasil test. Tapi kalau REAKTIF kalian wajib ikut swab test. Untuk memastikan positif Covid-19 atau tidak.
  • Kalau positif, kalian akan dibawa ke fasilitas karantina. Sekaligus menjalani perawatan.

Suasa antrian
Langkah kolaborasi yang diambil memang sangat baik. Pemkot Surabaya memutuskan untuk menyasar tempat-tempat yang dinilai banyak kasus. Warga tidak perlu jauh-jauh datang. Juga mempermudah menjaring masyarakat sekitar. Meskipun dari jauh pun dipersilahkan datang.

Akan tetapi di beberapa titik penyelenggaraan, terkadang tidak aturan. Warganya berjubel, tidak ada jarak satu sama lain. Menempel badan dengan badan. Berhadapan muka dengan muka.

Cukup riskan  apalagi jika ada yang positif. Penyebarannya cepat. Saat rapid memang tidak ketahuan langsung. Bisa jadi negatif. Baru setelah di rumah istirahat dan haha hihi dengan keluarga kena. Tambah lagi kontak eratnya. Ambyar.

Untungnya, panitia bisa cepat tanggap. Ratusan kursi disediakan sekarang. Biar antrenya duduk. Suntuk menunggu giliran. Yang tua pun bisa senang, sendinya tetap bisa bertahan. Seperti rapid test di Terminal Keputih, Sukolilo atau Makam Ngagel, Gubeng. Tertib dan rapi. 

Di satu sisi, antusias masyarakat seperti ini tetap perlu diapresiasi ya teman. Minimal mereka sudah mau bersusah payah untuk memastikan dirinya tidak terjangkit Covid-19. 

SABAR : Warga mengantre untuk mendapatkan giliran uji cepat.

Tali dari hasil penelusuran saya, memang banyak orang yang antre itu hendak menggunakan kartu hasil tes untuk berbagai keperluan. Misalnya karena diminta tempat mereka bekerja untuk bawa surat kesehatan. Padahal seperti itu seharusnya jadi kewajiban pemberi kerja.

Tidak tanggung-tanggung, ada juga yang menjadikan hasil rapid test sebagai barang wajib. Kalau tidak bawa ya tidak boleh kerja. Alhasil setiap rapid test yang dilakukan selalu full. Penuh, pagi sampai sore selalu banyak pesertanya.

Sekedar info saja ya, kartu hasil rapid test juga bisa digunakan sebagai alat untuk lolos check point luar kota. Tapi ingat batas waktu hasil rapid test ini hanya diakui 7 hari ya kawan. Lebih dari itu kedaluwarsa.

Namun demikian ada baiknya sementara waktu tidak keluar kota dulu. Apalagi yang berdomisili di Surabaya, mengingat kasus positif juga tinggi. Kecuali memang sedang dalam tugas. Itu pun harus dipastikan kondisinya sehat betul. Stamina baik dan imun tubuh sedang kuat-kuatnya. (Galih Adi Prasetyo)

Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment