F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Tersisa 6 Perempuan Penerus Tato Wajah

Suku Taroko
TETAP LESTARI : Potret kehidupan dan tradisi suku Taroko yang masih ada hingga sekarang.

Taiwan punya 16 suku asli. Salah satunya Truku atau Taroko. Peradaban itu bisa dilihat di area Taroko national Park. Saking luasnya, taman nasional itu terbagi ke tiga wilayah, Hualien, Nantou dan Taichung.


Kini lokasi asli suku tersebut berubah menjadi sebuah tempat wisata. Mengenalkan budaya penduduk asli disana. Di kelilingi bukit-bukit marmer pegunungan Hualien dan sungai Liwu. Taroko Village namanya. Selain memperkenalkan budaya, disini juga menyediakan penginapan. Pastinya dengan jaminan halal.


Sejarah mencatat suku Taroko saat masa invasi Jepang ke Taiwan. Tidak berjalan mulus. Penduduk asli banyak yang melakukan perlawanan. Menentang penguasaan kekaisaran negeri matahari terbit ke negeri formosa itu.


Suku Taroko merupakan salah satu penentang kekuasaan itu. Peperangan selama 13 tahun berturut-turut terjadi. Meskipun kalah, upaya mempertahankan tanah nenek moyang merupakan sebuah kehormatan bagi mereka.


Patung Harug Nawi
Patung Harug Nawi
Salah satu yang terkenal adalah Harug Nawi. Seorang kepala suku yang memimpin perlawanan kala 20.000 pasukan Jepang menyerang. Sosok itu kini diabadikan dalam sebuah patung, persis di depan Taroko Village.

Suku Taroko mulanya adalah bagian dari suku Sediq, yang mendiami daerah Nantou. Populasi yang kian berkembang memaksa sebagian dari mereka pergi berkelana. Mencari hutan untuk memperoleh makanan. Kebiasaan mereka adalah berburu babi hutan.


Tibalah mereka di pegunungan Hualien. Sebuah area datar yang dikelilingi pegunungan dan dekat sungai dirasa cocok. Tempat itu dijuluki Truku yang kemudian menjadi tempat tinggal suku tersebut. Sekarang lokasinya menjadi Taroko Village.


Hingga pada tahun 1895, 5 tahun setelah Jepang masuk Taiwan. Kekaisaran itu mulai mengincar wilayah tersebut. Pos pos militer didirikan di wilayah itu. Karena Jepang pulalah pelafalan Truku berubah menjadi Taroko dan bertahan sampai sekarang.


Suatu hari ada perempuan Taroko yang menjadi korban pelecehan 3 tentara Jepang. Perempuan itu shock berat. Bunuh diri jadi pilihan saat kehormatannya telah hilang.


Tidak terima dengan kejadian yang menimpa anggotanya, 8 orang suku Taroko menyatroni pos keamanan Jepang. Pembalasan dilakukan. Belasan pasukan Jepang dibantai dan dipenggal. Dengan senjata khas mereka, sebuah parang tajam.


Kabar itu diterima oleh pemimpin Jepang. Serangan lanjutan kembali dilakukan. Terus seperti itu hingga berjalan tanpa henti. Korban berjatuhan dari kedua pihak.


Puncaknya pada tahun 1914. 20.000 tentara kekaisaran ngluruk Taroko. Mau tidak mau orang Taroko haru melawan. Meski jumlahnya tidak imbang. Hanya ada 7.000 orang. Itupun yang bisa berperang hanya 3.000 saja. Selebihnya perempuan, anak dan lansia. Kalah jumlah membuat Taroko tumbang. Penduduk yang tersisa menyebar ke pegunungan Hualien.


Hingga sekarang populasi dari Suku Taroko tak lebih dari 10.000 jiwa. Tersebar di pegunungan Hualien dan daratan taiwan.



Tarian tradisional
SUGUHAN PENGUNJUNG : Salah satu pertunjukan dan tarian tradisional suku Taroko.


Banyak tradisi yang dimiliki suku tersebut. Salah satunya tato wajah sebagai pertanda bahwa seseorang itu telah dewasa. Tato itu diukir dari samping bibir hingga pelipis. Dengan gambar garis zigzag dan motif segitiga. Hingga saat ini hanya tersisa 6 perempuan dan satu lansia yang masih meneruskan tradisi tersebut.


Main Musik
TETAP LESTARI : Anak-anak suku Taroko memainkan alat musik tradisional dari kayu.


Di Taroko Village pengunjung bisa menyaksikan bentuk rumah asli dari suku tersebut. Saat malam juga ada pertunjukan yang digelar. Sebuah sendratari yang melibatkan anak-anak suku Truku. Menceritakan kebiasaan masyarakat. Mulai bertani hingga mencari pasangan.


Nah saat makan malam di tempat ini, pengunjung bakal dikejutkan dengan lampu ruang makan yang tiba-tiba mati. Kerumunan orang-orang membawa obor berjalan ke sekeliling tempat makan. Sambil menggotong seekor babi hutan. Itulah salah satu pertunjukan yang menggambarkan ketika suku tersebut berhasil mendapatkan buruan.


Meskipun ada tradisi berburu babi hutan, namun tempat ini juga menawarkan paket bagi muslim. Ada menu yang khusus disajikan bagi wisatawan muslim. Tersedia juga mushola yang menjadi satu dengan aula pertunjukan. (Galih Adi Prasetyo)


Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment