F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Tangan Dingin Legenda Pecel Blitar

NIKMAT NYATA
NIKMAT NYATA : Salah satu pecel legenda di Ponggok, Blitar yang istimewa.

Belajar banyak dari Mbok Mariyem. Mempertahankan loyalitas pelanggan tidak harus dengan sesuatu yang mewah. Rasa sederhana seperti ini membuat siapa pun yang datang merasa betah.

Tidak ada sekat penjual dan pembeli. Obrolan santai selalu terjadi. Petuah sederhana keluar saat pelanggannya ada masalah. Beli pecel sambil curhat. Ini mungkin yang disebut ngemong pelanggan.

Di usia senja Mbok Mariyem masih konsisten memberikan cita rasa pecel yang ngangeni. Aroma daun jeruk dan kencur yang harum. Kacang yang masih agal dan masih terasa gurih.. Ditambah rasa pedas yang seakan mengajak pembelinya melupakan beban hidup.

Warung Mbok Mariyem yang tampak sederhana
TELATEN : Mbok Mariyem yang murah senyum meladeni permintaan pembeli yang datang.

Tidak ada lauk mewah seperti daging, ayam atau yang lain. Bahkan telur sekalipun. Beliau hanya punya tiga lauk andalan. Tahu, tempe dan peyek. Rasanya beliau sangat paham apa yang dikangenin penikmat kuliner zaman sekarang.

Mbok Mariyem seakan rumah kedua yang wajib saya datangi saat pulang ke Blitar. Rasanya kangen sekali kalau tidak ke sana. Bukan pecelnya saja, suasananya warungnya juga yang bikin betah.

Pejamkan mata sejenak. Anda berada di sebuah rumah desa dengan atap limasan. Halaman tanah yang luas. Dengan pohon mangga yang rindang.

Masuk ke dalam rumah disambut aroma harum nasi yang baru matang. Stoples beling berderet di meja. Mengingatkan wadah jajanan di warung-warung kampung. Yang tutupnya harus dibungkus plastik biar makanan di dalamnya tidak melempem.

Kursi panjang dengan meja makan warungan. Di situ bisa melihat langsung tangan keriput simbah mengaduk bumbu pecel. Berinteraksi dengan senyum ramah ke pembelinya.

Memandang sekeliling warung yang merangkap ruang tamu. Atap tinggi tanpa plafon. Lantai juga plester semen. Dinding gedek. Suara "sreng" dari dapur yang tidak berhenti memasak tahu.

Haduh benar-benar definisi suasana pulang kampung ke rumah nenek. Yang sering jadi cerita di buku-buku TK.

Soal rasa saya tidak mau berkomentar banyak. Saya hanya berani menjamin, pecel terkenal di Surabaya sekalipun rasanya biasa saja bila disandingkan dengan pecel Mbok Mariyem. Bisa jadi kalau dirunut lebih jauh pecel Mbok Mariyem termasuk yang original. Belum terkontaminasi cita ras modern.

Pecel Blitar memang selalu dominan dengan rasa manisnya. Juga kental. Saya perhatikan Mbok Mariyem tidak pernah menaruh bumbu lebih dari 4 sendok. Rata-rata 3 sendok makan.

Tampaknya sedikit jika dibanding dengan penjual lain yang terkadang memberi bumbu pecel seperti makan tahu tek. Terlalu berlimpah dan enek. Meski hanya beberapa sendok tidak mengurangi rasanya.

Warung yang seperti suasana di rumah
SERASA DI RUMAH : Suasana warung Mbok Mariyem yang menyatu dengan rumah utama dan ruang tamu.

Kebiasaan saya di sini selalu porsi dobel. Ya makan di tempat ya bungkus juga. Pengalaman saya, meski sampai siang pun rasanya masih enak. Tidak banyak berubah. Hanya aromanya saja, lebih harum karena sudah terbungkus daun pisang. (Galih Adi Prasetyo)

Hmmm sehat selalu mbah..
Agar anak saya nanti bisa mencicipi pecel dari sang maestro.

Harga : Rp 5.000
Jam Buka : 05.00-10.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment