F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Ulat Jerman Si Gurih Yang Unik

Ulat Jerman
SUMBER PROTEIN : Ulat Jerman yang sudah diolah menjadi cemilan sehat.


Tidak sengaja saat liputan soal ayam, si peternak Bambang Adji Pratama menawarkan camilan istimewa. Langka dan jarang ditemui. Ulat Jerman.

Ini merupakan salah satu jenis ulat yang banyak dijadikan pakan unggas atau reptil. Kulitnya sedikit keras. Warnanya cokelat. Panjangnya dua ruas jari. Lima kali lebih besar dari ulat Hong Kong.

Pak Bambang bilang, banyak dokter yang beli ulat itu ke dia. Untuk camilan. Bahkan salah satu dokter kenalannya bisa habis dua kotak sehari. Disambi mengemudi atau pas macet. Sangat cocok katanya.

Tantangan itu pun beralih ke saya. Katanya enak. Kata-kata ini benar-benar menghipnotis.

Pikir saya, sesekali lidah butuh traveling juga. Mencicipi rasa yang melenceng dari makanan sehari-hari. Toh kalau enak juga bakal nagihi. Yang jelas bakal mencari-cari lagi.

Sempat ragu juga memang. Mengambil saja rasanya merinding. Bulu kuduk sudah kaku. Pikiran sudah lari ke mana-mana.

Hati pun ogah-ogahan. Rasanya maju mundur. Tetapi Pak Bambang keukeuh mengatakan itu enak. Seperti udang.

Ulat Jerman
CITA RASA UNIK : Ulat Jerman memiliki rasa gurih, perpaduan kacang dan udang.


Satu ulat saya ambil. Bentuknya benar-benar masih ulat. Tidak ada bedanya dengan yang masih hidup. Hanya saja yang ini sudah tidak klogat-kloget dan menari-nari.

Setengah badan ular masuk ke mulut saya. Masih ragu kalau harus makan utuh. Terbayang-bayang juga wajah ulat yang bikin geli. Seperti Satria Baja Hitam.

Gigitan pertama saya lalui. Perut ulat terasa padat dan berisi. Saya tidak tahu secara pasti. Apakah itu hanya orangnya saja atau makanan yang masih tersisa di tubuh ulat.

Saya sudah tahan nafas. Jaga-jaga kalau ada rasa langu yang muncul. Ternyata tidak ada. Ah lidah saya mulai traveling.

Eh kok rasanya kaya kacang "tis" yang digoreng. Benar-benar sangat mirip. Gurih. Ada rasa asin dan manisnya. Kemudian tekstur juga empuk.

Tidak sekeras kacang tis pas digigit masih menyisakan butiran yang ada di mulut. Pas digigit langsung pyur. Seperti makan jajanan lawas dari kedelai, satrun.

Perasaan saya, ko beda ya dengan Pak Bambang Bilang. Katanya seperti udang. 

Karena penasaran, saya sudah lupa dengan rasa jijik atau geli. Sejumput ulat kembali saya ambil. Saya makan. Kali ini tanpa ragu, tetapi tetap separo bagian yang saya lahap.

Rasanya juga masih sama. Seperti kacang tis. Enak juga ya ternyata. Kulit ulat yang tidak serta merta langsung bisa dikunyah. Masih meninggalkan sisik seperti kacang tis yang masih ada kulitnya. Nyelilit di gigi. Warnanya saja juga sudah sama.

Karena penasaran, kembali saya makan separo bagian lain. Kali ini bagian kepalanya. Nekat saja sudah. 

Eh iya ternyata mengejutkan, seperti udang. Meskipun bagian kepala ke belakang itu badannya kopong. Tidak seperti bagian ekor yang lebih padar.

Coba lagi makan utuh satu ulat. Rasanya benar-benar unik. Manis dan asin tipis. Kombinasi gurih yang pas. Aroma khasnya sama sekali tidak mengganggu. Pikir saya, pakai sambal sepertinya tambah enak.

Ulat Jerman yang saya makan masih polosan. Hanya disangrai saja. Tanpa bumbu sedikitpun. Tapi memang benar-benar gurih. Layaknya udang segar yang digoreng garing.

Namanya juga stok makanan ayam. Kalau diberi bumbu takutnya si ayam ketagihan. Pantesan para unggas itu doyan banget. Lha wong rasanya istimewa.

Ulat Jerman
POTENSI BESAR : Ulat Jerman bisa menjadi sumber protein baru di masa depan.


Pak Bambang ini sudah ternak sendiri. Di lantai 2 rumahnya. Namun produksinya masih skala kecil. Ulat Jerman hasil panen ada yang dijual segar. Kemudian dikemas setengah matang. Ada juga yang matang.

Ternyata di beberapa daerah sudah ada yang memproduksi massal. Berbagai rasa dan varian. Salah satunya ada di Solo.

Mungkin ulat yang satu ini kurang familier sebagai cemilan. Lebih terkenal serangga lain. Seperti laron atau belalang.

Tetapi selama saya mencoba kedua jenis serangga itu, hanya ulat Jerman yang nggak mboseni. Belalang juga enak, namun kalau rasa original masih kurang kuat. Hanya mendapat rasa gurihnya saja. Harus ditambah bumbu terlebih dulu baru sip.

Ulat Jerman
BUTUH KETELATENAN : Kepik yang menjadi indukan Ulat Jerman.


Hal ini lo yang saya takutkan. Kalau sudah enak memang inginnya nyomot terus. Mumpung harga juga murah, Rp 55.000 per tepak ukuran 200 gram.

Memang serangga di masa depan menjadi salah satu alternatif bahan pangan. Kaya protein, juga mudah dibudidayakan. Tentu harus diproses dulu. Misalnya di ekstrak menjadi serbuk atau tepung. Menjadi bajan campuran biskuit atau produk yang butuh protein lainnya. Siapa tahu. (Galih Adi Prasetyo)

Harga : Rp 55.000/box
Jam Buka : -
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment