F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Nostalgia Pecel Daun Jati Khas Tuban

Pecel Pak Ton Tuban
Pecel khas Tuban yang menggunakan alas daun jati sebagai pembungkus makanan.

Pecel ini punya banyak kenangan. Dari mulai saya kecil hingga sekarang pun sudah langganan. Masih ingat betul, pecel Tuban ini jadi favorit untuk bekal sekolah.

Sampai sekarang pun masih suka beli saat pulang ke Tuban. Atau saat orang tua sedang bertandang ke Surabaya, selalu minta untuk dibawakan. Tahan lama, meski sampai sore tiba.

Saya biasa memanggilnya pecel Pak Ton. Karena dulu yang jual suami istri. Bu Ton bagian menyajikan dan meracik bumbu. Urusannya langsung berhadapan dengan pembeli.

Pak Ton tugasnya tidak kalah penting. Menggoreng tempe yang renyah dan gurih itu. Tetapi sekarang Pak Ton sudah sedo. Digantikan menantu, anak, dan saudaranya.

Dari dulu gaya penyajian pecel ini tidak berubah.  Saat beli pasti ditanya "pecel tok atau campur". Maksudnya kalau campur, pecel akan diguyur sayur lodeh. Bisa nangka muda, kates, atau terung.

Pecel Pak Ton Tuban
Tempe goreng tepung menjadi ciri khas lauk sandingan untuk pecel di Tuban.

Paling demen pecel tanpa sayur. Lengkap dengan mi, semur tahu, serundeng kelapa dan tentu saja tempe yang kriuk-kriuk gurih. Kalau kebetulan menunya lodeh pepaya muda, saya pasti minta. Namun cuma isinya saja, tanpa kuah.

Kebiasaan saya yang lain terkadang meminta tempe di siram kuah pecel. Ya, tempe yang super tipis berbalut tepung garing langsung diguyur bumbu pecel. Duh tempe yang lembek karena bumbu ini selalu menjadi favorit saya.

Pecel Pak Ton ini memang tidak seperti pecel di daerah selatan Jawa. Yang super kental. Namun lebih encer. Tapi rasanya tetap kuat. Pedas, manis, asin, menyatu dengan kacang halus.

Bau daun jeruk dan kencur membaur memanjakan indra penciuman. Sekalinya masuk mulut, lidah ini dibuai terlena.

Pecel Pak Ton Tuban
Tempe tipis dengan balutan tepung yang gurih menambah cita rasa pecel ini.

Sejak dulu pecel Pak Ton konsisten menggunakan daun jati. Ini yang menjadi ciri khas. Meskipun sekarang pelapis itu dipadu dengan koran. Hanya selapis saja daunnya.

Nasi yang masih mengepul merangsang aroma khas daun jati itu keluar. Nasinya lebih harum. Menggairahkan perut yang keroncongan.

Katanya harga daun jadi tambah mahal. Sulit juga mencari pemasoknya. Dulu mudah, banyak dijumpai di pasar saat pagi buta.

Sepertinya kenaikan harga ini juga dampak dari semakin masifnya promosi menu ndeso. Yang dibalut daun jati. Lucunya ada saja yang keliru. Sisi mana daun jati yang digunakan alas makan.

Memang cita rasa yang diberikan daun jadi pada makanan ini luar biasa. Begitu khasiat untuk menjaga makanan itu tetap awet. Sudah banyak terbukti, termasuk bagi kuliner khas Tuban. Seperti tahu lontong atau lontong ancah. Makin sedap bila memakai daun jati.

Ah memang tempat kuliner tidak melulu mengunggulkan rasa. Yang lebih berharga adalah kenangan yang mereka berikan. Kalau mencari sesuatu yang lebih nikmat pasti ada. Di atasnya langit masih ada langit.

Tapi kalau yang memberikan kesan dan kenangan, itu tidak semua tempat bisa meciptakannya. Salam satu rasa, istimewa! (Galih Adi Prasetyo)

Harga : Rp 5.000
Jam Buka : 05.00-10.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment