F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Street Food Surabaya : Lumpia Kang Agung 86

Lumpia Goreng Kang Agung Surabaya
Jajanan pinggir jalan Lumpia Kang Agung 86 yang memiliki cita rasa unik dengan enam varian kombinasi isian ditambah taoco yang nikmat.

Jalan-jalan di bawah kolong pertokoan Surabaya. Sambil ngemil jajanan pinggiran. Suasana ini seperti mengembalikan memori kota lama dengan segala hiruk pikuknya.

Salah satu kawasan yang menyimpan abadi cerita itu ada di Jalan Embong Malang. Beberapa penjaga makanan pinggir jalan masih eksis hingga sekarang. Beberapa di antaranya menjadi ikon dan patut disinggahi saat mencari kuliner yang beda.

Yang paling saya suka adalah Lumpia Kang Agung 86. Nama aslinya Agung Purnomo Jualannya ada di depan Gedung Go Skate. Bangunan tinggi yang dulu menjadi pusat kegiatan anak muda pada masanya. Mulai dari pertunjukan musik hingga hiburan lain.

Di teras gedung itulah saban sore ada hidden gems yang bisa lidah travelling. Lumpia goreng. Jajanan asal Semarang namun sudah banyak dimodifikasi dengan lidah Suroboyoan.

Kang Agung biasanya mangkal saat sore. Sekitar pukul 17.30. Tidak ada lapak khusus. Dia hanya memanfaatkan meja kecil yang didirikan di tepi teras toko kelontong gedung Go Skate. 

Lumpia Goreng Kang Agung Surabaya
Lapaknya sederhana namun rasa Lumpia Kang Agung ini sangat unik dan berbeda dari lumpia lain di Surabaya.

Aroma gurih dan harum lumpia menyembul begitu boks berisi makanan itu dibuka. Tak perlu waktu lama, langsung pilih varian rasa yang diinginkan.

Semua isi lumpia goreng ini dominan wortel. Kemudian diramu dengan ragam isian yang berbeda. Total ada enam jenis varian. Mulai dari ayam, telur, rebung, jamur, dan sosis.

Ya, rebung yang biasanya sebagai filling utama kini hanya sebagai pelengkap. Namun tetap saja, lumpia ini tidak kalah dengan pakem lumpia Semarang. Favorit saya di sini varian lumpia jamur dan ayam.

Karakteristik lumpia Kang Agung 86 ini unik. Kulit sedikit lebih tebal. Satu gigitan memberikan sensasi yang kompleks. Ada nuansa garing yang langsung disambar dengan bagian dalam lumpia.

Isian wortel terasa lembut. Perpaduan varian tambahan tercampur sempurna. Tidak terlalu manis. Gurihnya lebih intens.

Apalagi saat ditimpali dengan manis, pedas, dan asam dari taoco. Tambahan kondimen ini memberikan nikmat yang seimbang dari kulit garing dan taoco. Tidak terlalu kental juga tidak encer. Seperti menemukan jodohnya.

Memang saus yang digunakan Kang Agung berbeda dengan lumpia kebanyakan. Kedelai taoco masih kasar. Ada tekstur kedelai yang tertinggal. Kemudian rasanya pedas. Dia sengaja menambahkan saus sambal untuk rasa ini. Nuruti lidah arek Surabaya.

Ternyata kondimen ini manjur menarik pelanggan. Mereka terlena hingga melampaui batas. Pantas saja, dalam hitungan satu jam 350 lumpia yang Kang Agung bawa saban hari ludes terjual.

Lumpia Goreng Kang Agung Surabaya
Dalam sekejap Lumpia Kang Agung ini ludes terjual.

Beberapa kali saya kelewatan dengan lumpia Kang Agung 86. Tidak mau ketinggalan, akhirnya saya memilih untuk datang sebelum Kang Agung datang. Itu pun, sudah ada beberapa orang yang juga menunggu.

Berburu kuliner seperti ini sangat berkesan. Menikmatinya lebih puas. Apalagi suasana yang diberikan sungguh istimewa. Duduk sambil melihat lalu lalang orang dan kendaraan.

Khusus kulit lumpia, diproduksi sendiri olehnya. Menggunakan adonan kering. Bukan basah yang biasanya lebih encer.

Kadar air yang minim ini membantu kulit lebih cepat kering saat digoreng. Isi tidak akan terlalu overcook karena proses penggorengan yang dilakukan sesudah isi dan kulit digulung menjadi satu.

Lumpia ini dirintis sejak tahun 2012. Setelah dia hengkang dari salah satu restoran ternama. Dulu Kang Agung ada di bagian pembuatan mi.

Tren lumpia yang naik, membuat pria kelahiran Kediri itu tertarik. Mulailah Kang Agung untuk riset dan membuatnya menjadi ide jualan. Beberapa penyesuaian rasa dilakukan, rasa otentik makanan peranakan dirasa kurang pas.

Tidak semua orang suka rebung. Terkadang ada yang enggan mentolerir aromanya. Wortel menjadi alternatif bahan utama lumpia goreng Kang Agung. 

Lumpia Goreng Kang Agung Surabaya
Kang Agung yang sudah hampir tujuh tahun berjualan melewati proses panjang dalam menemukan rasa yang seimbang.

Saran dan kritik dari pelanggan perlahan menciptakan kombinasi yang klop. Hasilnya seperti sekarang, rasa bisa diterima pasar.
 
Awalnya pun Kang Agung berjualan keliling saat malam hari dari pub ke pub. Hal itu dilakukan saat Agung bekerja di sana. Seiring waktu, dia bisa mengatur ritme kerja. 

Kemudian mulai menetap sejak tahun 2014 di depan gedung Go Skate. Menyediakan kudapan untuk pekerja yang baru saja pulang. Sekaligus menjadi salah satu ikon street food di Surabaya. (Galih Adi Prasetyo)

Harga : Rp 2.500
Jam Buka : 17.30-19.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment