F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Kuliner Jogja : Sate Kere Pasar Beringharjo

Kuliner Jogja Sate Kere Pasar Beringharjo
Sate kere menjadi salah satu cullinary heritage di Pasar Beringharjo Yogyakarta yang wajib di coba.

Sate kere Pasar Beringharjo Yogyakarta menjadi destinasi wajib saya saat ke sana. Selain lokasinya yang strategis, dekat Jalan Malioboro, rasanya selalu nagih. Penyajian yang unik dan rasa yang menggoyang lidah selalu membuat kangen.

Pantas saja banyak yang menyebut Jogja sebagian terbuat dari rindu. Bukan soal keistimewaannya saja. Tetapi kulinernya juga.

Sate kere ini contohnya. Terbuat dari bongkahan gajih atau lemak sapi. Yang menjelma menjadi sebuah potongan penuh selera.

Sate kere berbeda dengan sate lain. Sebab sudah melalui proses bacem atau marinasi dengan rempah dan bumbu istimewa. Proses ini membuat bumbu meresap hingga ke celah terdalam.

Aroma ketumbar begitu pekat. Juga manis dari campuran gula jawa. Seimbang dengan bawang putih yang mengurangi bau amis.

Nah proses bacemisasi ini menghasilkan kejutan saat lemak itu dibakar. Terkaramelisasi sempurna. Luar dalam terbumbui sempurna.

Lapisan gula dan bumbu yang kemudian bercampur dengan lemak gajih yang mengeluarkan minyak. Menciptakan asap pembakaran yang begitu harum. Dari sini saja sudah ketahuan bahwa penganan ini bukan kaleng-kaleng.

Sate kere favorit saya di Pasar Beringharjo, ada dua. Yang pertama Bu Dasinah, lokasi jualannya ada di Pasar Beringharjo sisi pojok pasar menuju Jalan Pabringan.

Kuliner Jogja Sate Kere Pasar Beringharjo
Bu Dasinah sudah menjajakan sate sejak usia 30 tahun. Dari situ dia biasa menanggung ekonomi keluarga.

Sudah lebih dari 30 tahun, Dasinah berjualan sate di tempat pojok itu. Di usia yang menginjak 61 tahun, dia konsisten menyajikan resep asli sate kere Jogja. 

Kebiasaan saya saat membeli sate kere tanpa lontong. Polosan saja, sebab tanpa kondimen apa pun rasa sate sudah nendang luar dalam. 

Gigitan pertama, gajih langsung pecah di mulut. Ibaratnya menggigit sebuah kubus berisi bumbu bacem dan minyak. Pyur, langsung meleleh di mulut. Tanpa meninggalkan serat yang nyelilit di gigi.

Bagian terbaiknya adalah karamel dan gajih yang sedikit gosong. Sedikit rasa pahit ini memberikan aroma smoky yang lebih kuat. Mengunyahnya tidak bisa berhenti.

Lokasi sate kere kedua yang saya sukai ada di Jalan Pabringan. Di salah satu pintu masuk pasar itu ada Bu Suwarni yang menjajakan sate kere. Dibanding Bu Dasinah, Bu Suwarni lebih dulu mangkal di sana. Sudah 40 tahun.

Kuliner Jogja Sate Kere Pasar Beringharjo
Penjaja sate kere di Pasar Beringharjo dulu sangat banyak namun sekarang sudah berkurang, Bu Suwarni salah satu yang masih bertahan. 

Kalau di tempat ini jenis satenya lebih beragam. Ada ginjal, daging, dan pentol. Meski pilihan lain menggoda, saya tetap memilih sate lemak nya. Yang menjadi menu juara di sana.

Kalau di sini, Anda bisa menambah kondimen jika mau. Yakni saus kacang, mungkin cocok saat dinikmati bersama lontong atau ketupat. Tetapi lebih baik menikmati rasa autentiknya saja.

Jika diminta memilih mana yang lebih enak. Jujur saya bingung, sebab dari segi rasa keduanya sangat mirip. Harum ketumbar dan manis gula paling dominan dan mencuat kuat.

Pembeda hanya dimainkan pada komposisi rasa gurih saja. Sedikit asin atau terlalu manis. Menurut saya, sate kere Bu Suwarni sedikit lebih over pada rasa asinnya. Namun tetap keduanya saya rekomendasikan untuk di coba.

Usai panjang lebar mengulas rasa. Sejarah terciptanya penganan ini perlu menjadi perhatian. Sudah sepantasnya sate kere menjadi cullinary heritage yang wajib terpatri dalam katalog destinasi Yogyakarta.

Kuliner Jogja Sate Kere Pasar Beringharjo
Proses bacem menciptakan rasa istimewa pada sate kere, aroma ketumbar dan karamelisasi pada sate saat dibakar memberikan rasa yang khas.

Sate kere merupakan bentuk sindiran kepada kalangan atas pada zaman dulu. Daging sapi hanya mampu dijangkau kalangan bangsawan. Harga tinggi memaksa pribumi menahan diri untuk bisa menyantapnya.

Bukan orang Jawa bila tidak mampu memutar otak. Gajih yang dijual murah merupakan bagian paling logis untuk mereka beli. Racikan bumbu merupakan faktor penentu, untuk bahan murah ini bisa naik kelas.

Ternyata kejutan itu terwujud. Sate kere menjelma membius penikmatnya. Melengkapi pelangi rasa lidah dan dapur Jogja. Dan itu bertahan hingga sekarang.

Sate kere juga ada di Solo, namun di sana lebih familier dengan ragam jeroan yang lebih banyak. Juga berbahan dasar ampas tahu, atau di kenal dengan nama gembos.

Apa pun itu, penyebutan kere tidak lepas dari  bahan dasar yang dulu dianggap murah. Hanya dimakan oleh pribumi dengan kemampuan ekonomi lemah.

Kuliner Jogja Sate Kere Pasar Beringharjo
Konsisten sejak dulu dengan acuan bumbu yang tidak berubah sejak dulu.

Tetapi keadaan sate kere sekarang justru terbalik. Harga sate kere Jogja terus saja melambung. Tiga tusuk sate biasanya dibanderol dengan harga Rp 10.000. Tentu kategori ini hampir sama bila dibandingkan dengan sate daging.

Apa pun itu, kondisi sekarang ini sate kere menjadi rona sendiri bagi penjelajah lidah. Selalu dicari, dicintai, dan dinikmati. (Galih Adi Prasetyo)
Harga : Rp 10.000-15.000
Jam Buka : 08.00-15.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment