F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Jajanan Jadul, Serabeh (Serabi) Tuban

Jajanan Jadul Serabeh Serabi Tuban
Suwarsih salah satu penjual serabeh atau serabi khas Tuban memasak di atas wajan dari tanah liat.

Serabi merupakan salah satu jajanan tradisional yang familier di masyarakat. Terbuat dari campuran santan kelapa dan tepung beras. Biasanya dinikmati dengan kuah santan encer. Bisa manis atau asin.

Jajanan yang mengenyangkan ini merupakan bentuk tradisional dari pancake. Yang biasa menjadi santapan orang barat. Namun, serabi rasanya lebih beragam. Dengan proses pembuatan yang khas.

Memang belum ada catatan pasti kapan kuliner ini lahir. Beberapa pendapat mengatakan munculnya serabi tidak lepas dari pengaruh masa penjajahan dulu. Mereka biasa membuat pancake untuk menu sarapan.

Meskipun secara bahan racikan cukup berbeda. Namun kesamaannya serabi juga biasa dijadikan kudapan santap pagi. Mayoritas dijajakan saat pagi hari.

Ternyata banyak ragam jenis dari serabi ini. Sudah merakyat, di mana-mana ada. Dengan penambahan kearifan lokal yang bisa menjadi pembeda satu dengan yang lain.

Misalnya serabi Bandung yang memiliki dua menu andalan. Yakni serabi yang ditambah topping oncom sehingga ada sensasi pedas. Lalu versi lain menggunakan kuah kinca dari gula Jawa yang encer. Atau saus manis yang creamy.

Kemudian serabi Notosuman dari Solo dengan rasa adonan yang manis. Dimakan tanpa kuah. Serabi ini sudah ada sejak tahun 1923.

Semakin kesini banyak topping yang ditambahkan. Mulai dari meses, keju, hingga selai. Ciri khas ada pada pinggiran tipis kue yang sedikit gosong.

Jajanan Jadul Serabeh Serabi Tuban
Adonan serabeh Tuban cenderung lebih encer, terdiri dari campuran santan, tepung terigu, dan tepung ketan.

Ini hanya sebagian. Masih banyak ragam jenisnya. Termasuk dari tempat kelahiran Saya, Tuban. Orang lokal menyebutnya serabeh. Rasanya cenderung gurih-asin dan tanpa tambahan topping apa pun. 

Pembuatan serabeh menggunakan wajan dari tanah liat. Sumber api dari tungku kayu. Kebanyakan yang jual sudah sepuh.

Ini salah satu kue serabeh yang saya coba, lokasinya tidak jauh dari rumah. Penjualnya Ibu Suwarsih. Ada di kawasan Jalan Karang Indah, Dusun Krajan, Desa Karang, Kecamatan Semanding. Lapaknya sederhana, beratap terpal dengan tiang kayu seadanya.

Sudah hampir empat tahun Bu Warsih jualan di sana. Menunya tidak berubah. Hanya serabi saja, dengan kuah santan yang asin

Jualannya mulai subuh. Paling ramai saat akhir pekan. Banyak pesepeda atau orang yang lelah setelah berolahraga mampir. Penyajiannya fresh from the wok juga open kitchen. Istimewa.

Proses memasak serabeh ini tidak sulit. Sepintas yang saya lihat, Mak Warsih cukup menuangkan adonan encer itu ke dalam kuali. Yang sangat panas.

Tanpa dibasahi minyak atau bahan anti lengket apa pun, cukup disapu dengan lidi sebelum di pakai ulang. Untuk menghilangkan kerak dan kotoran yang tertinggal saat proses memasak serabeh sebelumnya. Tangan keriput perempuan 70 tahun itu begitu cekatan dan lincah.

Sambil di tutup dengan penutup yang juga dari gerabah. Cukup di tunggu, kurang lebih 3-5 menit hingga matang. Sembari api dikontrol, agar stabil.

Jajanan Jadul Serabeh Serabi Tuban
Lapak sederhana dan pengapian yang mengandalkan kayu bakar memberikan suasana nostalgia di desa.

Mak Warsih mengatakan tidak ada bahan spesial dalam membuat adonan serabeh itu. Hanya campuran tepung beras, sedikit tepung ketan, dan santan. Kemudian diberi sedikit parutan kelapa agar kuenya bertekstur.

Saat sudah matang, permukaan kue akan membentuk pori-pori sarang tawon. Seperti martabak manis atau terang bulan. Juga pantat kue yang sudah gosong menjadi pertanda, serabeh sudah matang.

Dulu serabeh ini disajikan dalam wadah daun pisang. Mangkuk daun yang biasa disebut dengan takir. Juga sendoknya dari daun pisang yang dikenal dengan suru. Namun sekarang hal itu dinilai kurang efisien. Akhirnya umumnya menggunakan mangkuk beling saja.

Satu tangkep (porsi) serabi terdiri dari dua buah kue. Ditumpuk, kemudian disiram dengan kuah santan yang gurih itu. Aroma yang smokey dan harum yang menguar membangkitkan selera.

Kalau permukaan bawah serabeh tidak gosong. Rasanya akan standar saja. Seperti makan tepung yang digoreng dengan teflon. Namun, proses pembuatan tradisional ini menciptakan rasa yang lebih beragam.

Tekstur yang sedikit garing dan bagian dalam yang lembut. Menyatu dengan kuah santan yang tidak terlalu pekat dan berlemak. Tidak membuat jenuh lidah, malah makin segar dan ramah di perut.

Jajanan Jadul Serabeh Serabi Tuban
Suwarsih sudah empat tahun lamanya menjajakan jajanan tradisional yang murah meriah.

Selagi menikmati serabeh, usahakan langsung habis ya. Sebab kue ini cenderung menyerap santan. Sensasi rasa akan berbeda. Namun sebagian orang ada yang menyukai cara menyantap seperti ini. Lebih empuk dan berair.

Selain dengan santan, Anda bisa mengkreasikan sendiri cara makan serabi. Misal yang sering saya lakukan dengan menambah gula pasir dan memakannya tanpa santan. Atau menambah parutan gula Jawa ke kuah.

Apa pun ragamnya serabi akan tetap menjadi kuliner yang patut dicicipi saat melipir ke Tuban.  Semoga saja kenikmatan ini tetap bertahan di tengah jenis dan kreasi makanan yang terus bermunculan. (Galih Adi Prasetyo)
Harga : Rp 2.000
Jam Buka : 05.00-08.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment