F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Historia Rasa Sate Karak Khas Surabaya

Historia Rasa Sate Karak Khas Surabaya
Sate karak kuliner khas Surabaya utamanya di kawasan utara seperti Wisata Religi Ampel.

Akhir pekan saya habiskan waktu untuk berburu Sate Karak khas Surabaya. Berbeda jauh dengan sate kebanyakan. Sate Karak menggunakan jeroan sapi. Juga lebih dulu di bacem dengan bumbu merah.

Sate Karak bisa dibilang memang asli Surabaya. Belum ada di tempat lain. Meskipun ada, penjualnya pasti menyebut sate ini dari Surabaya. Khususnya daerah religi Ampel, Surabaya Utara.

Jangan salah mengira jika sate ini disajikan dengan nasi karak. Nasi kering sisa yang dikeringkan kemudian dimasak ulang dengan tambahan kelapa dan garam. Sate karak justru menggunakan ketan hitam yang di tanak.

Kemudian sebagai kondimen ada parutan kelapa dan emput (bubuk) jagung dan kedelai (bubuk dari jagung dan kedelai tumbuk). Kemudian sate jeroan sapi berupa usus sebagai lauk utamanya. Ini yang menjadi pembeda dengan sate lain yang biasanya menggunakan nasi atau lontong.

Kuliner ini sempat hits di masa lalu. Sekitar tahun 1960-an. Namun kemunculannya jelas lebih lama dari itu.

Arahnya sudah bisa ditebak. Saat itu harga daging mahal, juga tidak semua mampu membelinya. Jeroan menjadi alternatif bahan yang mampu dibeli rakyat biasa.

Perubahan pun banyak terjadi. Sekarang beberapa sate karak sudah dicampur dengan daging. Tidak monoton dari jeroan saja.

Perkembangan kuliner ini hanya sebatas di daerah Ampel. Mulai dari Jalan Nyamplungan hingga Jalan KH Mas Mansyur. Faktor lokasi yang dekat dengan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) turut mempengaruhi munculnya penganan ini. Bahan mudah diperoleh.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan sate karak kalah pamor. Makanan lain yang lebih digandrungi masyarakat makin beragam. Perlahan pelanggan mulai meninggalkan masterpiece kuliner tradisional ini.

Untungnya, sampai sekarang masih ada yang bertahan. Menjajakan sate karak kepada mereka yang menjadi pelanggan setia. Juga seperti saya, yang penasaran dengan rasanya.

Dua tempat yang saya kunjungi ini pun berbeda. Utamanya pada rasa yang disajikan. Memiliki ciri khas dan pakem masing-masing pada sate yang dijajakan. Namun komposisinya tetap sama, menggunakan ketan hitam sebagai sumber karbohidratnya.

Sate Karak Bu Iri

Sate Karak Bu Iri
Bu Iri yang sudah lama menjajakan sate karak dengan citarasa yang sama sampai sekarang.

Lokasi jualannya ada di Jalan Nyamplungan IV. Tidak ada warung khusus. Bu Nur Irianingsih hanya jualan di ujung gang saja. 

Sate karak Bu Iri memiliki rasa yang unik. Sedikit pedas dan gurih. Dengan bahan utama sate dari usus sapi yang berlemak.

Berkunjung ke sini, Anda akan diajak bernostalgia dengan kampung lawas kawasan Ampel. Sembari menikmati aroma gurih dari sate yang dibakar. Baceman bumbu merah pada sate benar-benar membuat perut keroncongan.

Penyajian satu porsi sate ini dilengkapi dengan nasi ketan hitam. Taburan kelapa plus emput (bubuk) jagung dan kedelai yang gurih. Sangat cocok untuk santap pagi.

Saat mencicipi sate ini lemak yang gurih berbalut bumbu langsung lumer di mulut. Gigitan kenyal dari usus menambah kenikmatan. Apalagi disantap bersama nasi ketan hitam yang gurih.

Sate Karak Bu Iri hanya buka pada hari Minggu saja. Jika bertandang ke sini usahakan jangan terlalu siang. Biasanya tidak sampai dua jam sudah ludes terjual.

Sate karak Bu Iri pertama kali dijajakan kakaknya. Dia hanya membantu menyiapkan saja. Hal itu terjadi sekitar tahun 1970.

Kakaknya tutup usia. Lalu dilanjut oleh Bu Iri. Dia mulai berdagang sekitar tahun 1990-an. (Galih Adi Prasetyo)
Harga : Rp 12.000 (Nasi + 3 tusuk sate karak), Rp 15.000 (Nasi + 5 tusuk sate karak)
Jam Buka : 07.00 - 09.00
Sate Karak Bu Elis
Sate Karak Bu Elis
Sudah tiga generasi berjalan sate karak tetap memiliki penggemar setia.

Sate karak lain yang perlu dicoba adalah Sate Karak Bu Elis. Lokasinya ada di Jalan Ampel Lonceng. Tidak sulit menemukannya, karena mudah dikenali dengan banner yang terpampang jelas.

Sate Karak Elistiawati ini berbahan dasar jeroan. Namun dia memberikan sentuhan lain dengan campuran daging. Sebelum dibakar, sate lebih dulu di bacem dengan bumbu merah.

Tetesan minyak dari lemak ke atas bara api serasa menghipnotis para pelanggan. Asap itu seakan memancing indra kita untuk bekerja maksimal menikmati sajian lawas itu.

Berbeda dengan Sate Karak Bu Iri. Milik Bu Elis ada tambahan kecap manis di akhir pembakaran. Hint rasa manis ini melengkapi sate yang cenderung gurih.

Pakem Sate Karak Bu Elis menggunakan saus kacang sebagai pelengkapnya. Dengan irisan cabai jika ingin pedas. Sausnya gurih hasil dari kacang halus. Kemudian sentuhan manis diujung dari kecap dan sate.

Penyajiannya tetap menggunakan nasi ketan hitam. Plus parutan kelapa dan emput (bubuk) jagung yang manis dengan gurih tipis.

Sate karak Bu Elis buka pada malam hari. Cocok dijadikan menu makan malam yang ringan namun mengenyangkan.

Mengintip sejarahnya, Bu Elis sendiri mewarisi kuliner ini dari neneknya. Diawali dari buyut. Kemudian lanjut ke neneknya.

Ibunda Bu Elis belum sempat meneruskan karena tutup usia. Nah kemudian Bu Elis yang melanjutkan. Entah sejak tahun berapa buyutnya mulai jualan. Yang pasti Bu Elis sudah jualan 20 tahun lamanya. (Galih Adi Prasetyo)
Harga : Rp 13.000
Jam Buka : 16.00-22.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment