F0nhw1Im2cVa7GlhePYji7coHewOm0R3J52NdT2R

Lontong Kupang Pak Misai Sidoarjo

Lontong Kupang Pak Misai Sidoarjo
Lontong Kupang Pak Misari Sidoarjo dengan rasa kaldu kerang yang nendang dan kuah yang segar.

Orang baperan sebaiknya jangan datang ke Lontong Kupang Pak Misari. Atau yang tidak sabaran, sebaiknya cari waktu yang benar-benar luang. Tidak sedikit yang sudah merasa kecewa saat bertandang ke tempat makan satu ini.

Simak saja ulasan di google maps. Banyak yang menumpahkan emosinya. Bahkan kata bernada makian berderet di lini masa ulasan itu.

Memang gaya pelayanan Pak Misari tidak biasa. Nampak jutek. Orangnya terlalu fokus, juga tidak mau diburu-buru. Apalagi jika Anda tipe orang yang nyerobotan, siap-siap saja, dianggap angin lalu saja.

Deopot mungil ini saya bilang sangat istimewa. Menu tunggalnya hanya lontong kupang. Dengan side dish sate kerang dan minumannya Es Degan.

Kuliner wong darjo ini tidak pernah sepi. Sesaat setelah buka sekalipun. Pembeli sudah antre.

Apalagi saat jam makan siang, antreannya membludak. Tempatnya hanya berukuran 3x4 meter saja. Kalau mau makan di tempat siap-siap sabar saja.

Kalaupun mau bungkus dan makan di rumah, juga jangan berharap lebih. Jika antrean panjang, tak segan Pak Misari menolaknya. Hanya makan di tempat saja yang di layani.

Namun saya pribadi menilai mereka yang tidak sabaran itu terlalu dini memberi penilaian. Bagi saya layanan yang kurang sip masih bisa di toleransi. Toh tujuan utamanya mencari rasa, semua terbayarkan saat maha karya dari pembuatnya itu kita cicipi.

Saat datang ke Lontong Kupang Pak Misari saya tidak melihat ada pelayanan yang kurang memuaskan. Justru semua baik-baik saja, sesuai urutan.

Lontong Kupang Pak Misai Sidoarjo
Pengunjung rela antre dan berdesakan untuk menikmati sajian khas dan istimewa ini.

Saya perhatikan Pak Misari ini orangnya tertib. Jangan harap bisa nyusu-nyusu atau menyalib antrean. Saat datang, langsung saja bilang apa yang mau di pesan. Lalu duduk dan sabar.

Saat giliran Anda, Pak Misari pasti sudah paham siapa yang lebih dulu pesan. Lalu mengkonfirmasi apa yang kita pesan. Mau cabai berapa? Perlu ada yang dikurangi atau tidak?

Yang saya suka saat makan di sini bisa melihat langsung proses penyajiannya. Dari awal hingga akhir. Sesekali harus menelan ludah karena aroma yang menguar indah.

Deretan piring dijajar. Satu kali menyiapkan bisa sampai 20 porsi. Ruang di gerobak itu betul-betul dimaksimalkan.

Setelah piring siap, tangan keriput Pak Misari tampak lincah menyiapkan bumbu. Mulai dari bawang putih. Cabai rawit, juga racikan gula dan bumbu bubuk lain. Berwarna coklat, mirip koya.

Giliran semua bumbu itu dipadukan. Lagi-lagi mengandalkan kekuatan tangan Pak Misari. Ulekan dari pangkal bambu itu digenggam kuat. Sambil melumat cabai dan bawang putih hingga hancur kasar.

Susah memang mengulek di atas permukaan piring yang licin. Beda dengan cobek. Harus ditekan dan di tumbuk sekuat mungkin agar hancur dan cukup halus. Sari cabai dan bawang keluar.

Persiapan masih belum usai, giliran pasta petis udang yang menghiasi piring putih itu. Pakai petis udang, sangat kentara dari aromanya yang udang banget. Kental dan hitam kemerahan.

Berikutnya irisan lontong. Satu bungkus lontong untuk 2 porsi. Cukup mengenyangkan. Sentuhan berikutnya adalah lento singkong.

Sangat renyah, nampak saat Pak Misari meremat dengan mudah bola-bola lento itu. Krenyes, seketika hancur, menutup lontong dan memenuhi piring.

Giliran pelengkap utama. Sup kupang. Tutup dibuka, uap panas seketika menyebar ke mana-mana. Para pelanggan hanya bisa menatapnya, berharap piring yang disiram kuah itu segera sampai ke tangan.

Sendok sayur bergagang kayu perlahan mengaduk sup itu. Sesendok penuh kerang kecil seukuran bulir nasi dituang ke atas piring. Kemudian kuah coklat yang panas itu membanjiri sela lontong dan piring. 

Lontong Kupang Pak Misai Sidoarjo
Pak Misari yang sudah berjualan sejak tahun 1993 sedang menyiapkan lontong kupang untuk pelanggannya.

Bumbu-bumbu yang sejak tadi disiapkan membaur. Aroma bawang langsung menyembul kuat. Gurih petis udang menyusul berikutnya.

Giliran menikmatinya, kuah pasti saya rasakan dulu. Sentuhan awal terasa manis. Dengan rasa sedikit gurih. Aroma bawang mentah mendominasi namun mampu ditutupi dengan bau petis. Sehingga tidak terlalu menohok hidung.

Suapan pertama, dengan kuah yang sudah tercampur rata. Menciptakan perpaduan yang gurih, manis, pedas, dan aroma yang tidak tertahankan. Rasanya tangan tidak mau berhenti mencecapnya.

Daging kupang cukup lembut. Meskipun ukuran kecil, tetap menyisakan tekstur gigitan. Juga campuran lento yang garing. Memperkaya sensasi saat disantap, kriuk lento menyembul rasa gurih. Meskipun sudah bercampur dengan kuah, rasa garing masih ada.
 
Sandinganyan dengan sate kerang dara. Dengan bumbu petis pedas. Makin komplit dengan taburan bawang goreng yang melimpah. Sungguh luar biasa.

Dari beberapa tempat lontong kupang saya katakan semua nikmat. Termasuk lontong kupang gerobakan yang biasa berkeliling. Lontong Pak Misari ini sedikit di atas level yang lain.

Lontong Kupang Pak Misai Sidoarjo
Sebelum di siram sup kupang sajian ini sudah menggoda dan memiliki aroma yang sangat sedap.

Kunci utama menurut saya ada di kupang yang digunakan, selalu ganti tiap hari. Tidak pernah menginap. Kesegaran dan kaldunya juga berbeda.

Lalu petis udang yang digunakan. Lebih enak. Ada juga yang menggunakan petis kupang, namun saya rasa kurang mantap. Ada aroma amis, apalagi jika petisnya sudah berumur dan berkali-kali dipanasi.

Juga lentonya, sangat enak. Sayang tidak bisa nambah. Beberapa penjual lain gagal menyajikan lento yang nikmat, terlalu atos (keras). Atau kurang garing di bagian tengah. Namun selera kembali ke penikmat masing-masing ya.

Sejarah Lontong Kupang

Soal sejarah Pak Misari sudah berdagang Lontong Kupang sejak tahun 1993. Diawali dari gerobak keliling. Lambat laun usahanya makin laris. Rejeki terus mengalir.

Lalu berganti lagi dengan mobil boks. Pelanggan tambah banyak. Pundi-pundi yang sudah cukup, membuat Pak Misari terus mengembangkan usahanya. Sekarang dia memiliki tempat permanen. 

Jangan kaget dengan luasannya. Paling hanya cukup untuk 15 orang. Harus antre saat jam makan siang, pembelinya berjubel. Terkadang pelanggan rela makan di gang samping depot Pak Misari. Duduk di kursi plastik dan tanpa meja.

Namun jauh sebelum itu lontong kupang sudah ada. Makanan ini sebenarnya di cap sebagai kuliner dari tiga daerah. Yakni Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya. Banyak penjual yang bertebaran di tiga wilayah itu.

Namun Pasuruan dan Sidoarjo lebih dikenal sebagai asal muasal lontong kupang. Di Pasuruan, lontong kupang diawali dari Kecamatan Kraton. Sebuah wilayah di daerah pesisir.

Salah satu hasil lautnya yaitu kerang kupang. Kreativitas masyarakat pesisir akhirnya menghasilkan olahan berupa lontong kupang. Sampai sekarang banyak penjual legendaris yang bisa ditemukan, lokasinya di sekitar Pasar Kraton.

Nah salah satu perbedaan dengan kupang di sana dari petis yang di pakai. Mereka menggunakan petis dari kupang. Sisa rebusan kupang yang direbus dalam waktu lama hingga menjadi pasta. (Galih Adi Prasetyo)
Harga : Rp 10.000
Jam Buka : 09.00-16.00
Related Posts
Galih AdiPs
Senang berbagi cerita soal rasa. Menjelajah kekayaan aroma kuliner nusantara. Menorehkan kisah perjalanan yang istimewa dalam bait karya.

Related Posts

Post a Comment